Bagaimana Cara Untuk Menyimpan Tabungan Anak

Sebagian parents pasti mengajarkan anak-anaknya untuk menyimpan sisa uang jajan guna melatih agar bisa mengelola keuangan dengan baik di masa depan. Begitupun dengan saya. Dengan keadaan anak-anak yang sudah cukup paham soal uang, saya terapkan agar berapapun nilainya tak apa untuk disimpan.

Karena kadang tidak hanya cukup simpan di celengan, saya berinisiatif untuk menyimpan uang di layanan perbankan. Layanan apa saja yang pernah saya gunakan? Yuk kita simak selanjutnya.

1. BRI Junio

Siapa sih yang gak tahu Bank paling sepuh ini? Ini adalah bank pertama yang saya daftarkan untuk anak-anak. Dulu saya daftar langsung ke cabang terdekat dari rumah. Alasan saya daftar ke sini karena mudah ditemukan dan lumayan dekat, walau gak terlalu dekat amat.




 Ketika daftar, ternyata tidak bisa punya rekening sendiri tanpa adanya rekening orang tua. Jadi sistemnya itu menginduk ke rekening orang tua. Otomatis saya daftar juga untuk buka rekening. Kalau dari web-nya, khusus untuk 12 tahun kebawah. Kalau 12 s.d 17 tahun sudah bisa pakai identitas sendiri dan rekening sendiri.

Berikut terkait biaya di BRI Junio berdasarkan pengalaman dan tambahan dari web BRI.
  Untuk administrasi bulanan, tidak ada biaya alias gratis, hanya saldo pertama saja. Tidak ada biaya admin tiap bulannya karena daftar di usia <12 tahun. Untuk 12-17tahun ada biaya admin Rp. 5.000. 

Setoran awalnya Rp. 100.000. Ada saldo mengendap sebanyak Rp. 50.000. Jika saldo dibawah minimum (Rp. 50.000) maka ada admin Rp. 10.000 tiap bulannya. Untuk setoran selanjutnya bisa setor senilai minimal Rp. 10.000.

Fasilitas yang saya dapatkan ketika dulu (2016) hanya diberi buku tabungan saja tanpa kartu dan tanpa mbanking. Jadi tidak ada biaya lain-lain juga. Kalau dari webnya ada biaya kalau pakai kartu debit.

Selain biaya-biaya tadi, ada limit yakni batas jumlah uang yang bisa diambil atau ditransfer. Untuk limit tarik tunainya sebesar Rp. 5.000.000 per hari, transfer lewat ATM Rp. 20.000.000 untuk transfer sesama BRI dan Rp. 10.000.000 untuk antar Bank. 



2. BNI Taplus Anak

Yang kedua ini saya coba daftarkan ke BNI Taplus Anak. Kenapa saya pindah? Karena rekening BRI punya saya jarang dipakai ( sudah pakai dari Bank lain). Dan malasnya suka ada potongan tidak jelas. Jadi saya putuskan cari Bank lain untuk anak. Ketemulah BNI ini, karena lokasinya dekat dengan sekolah anak saya yang SMP. Rencananya, anak saya bisa setor ke sana sambil belajar mandiri. 

Ngomong-ngomong soal mandiri juga, berbeda dari BRI JUNIO, di BNI TAPLUS ANAK ini tidak perlu ada rekening orang tua. Dan tabungan akan bisa otomatis pindah ke taplus muda jika sudah lebih dari 17 tahun. Jadi kebayang kan praktis dan lebih enak di bank ini daripada sebelumnya. Dan tentu lebih mandiri.

Setoran awalnya minimal Rp. 100.000 dan selanjutnya minimal Rp. 10.000. 
Sama-sama gratis juga. Dan tidak ada biaya admin jika rekening pasif. Untuk reaktivasi tinggal isi saja rekeningnya. 

Limit rekening di taplus anak ini lebih sedikit, karena maksimal penarikan dan transfer masing-masing Rp. 500.000 perhari. Kadang suka sebel kalau butuh duit di atas segitu :), jadi triknya transfer dulu ke rekening orang tua dan tarik di ATM sebagian lagi 😄. Tapi harusnya sih karena buat tabungan jadi gak bakal terkuras jadinya.

Di bank ini anak-anak saya dapat buku tabungan dan kartu debit yang gratis biaya juga. Pertama kali dapat, duuh senangnya, berasa punya dunia dan seisinya padahal isi saldo baru 100rebu 😂. 

dokumentasi pribadi


Dari semua hal yang bagus itu, ternyata ada yang kurang sreg juga. Saat setor ternyata cabang sini tidak terima setor ke teller di bawah 10juta. Termasuk setor BNI Taplus Anak. Yah,.. kecewa banget jadinya. Tadinya mau ngajarkan anak buat bawa duit yang di dompet biar disetor ternyata harus lewat ATM. Sedangkan di ATM harus pecahan Rp.50.000 dan Rp.100.000.  Akhirnya setelah berbulan-bulan pakai, saya tarik saja karena mau beralih ke yang lain.

3. Nabung Emas

Bonus dompet selalu :)



Setelah tarik tunai, saya inisiatif buat belikan emas. Gapapa perhiasan juga yang pentinng emas tua yang kadarnya minimal 16k. Karena sudah nemu toko mas langganan dari jaman ibu, juga yang terpercaya. Mereka jual emas seharga pasaran. Walau potongannya kadang banyak tapi lumayan lah biar cepet jual dan menyelamatkan nilai uang juga daripada disimpan dalam bentuk uang yang nilainya menyusut. 

Jadi kalau nabung emas ini, gak rutin juga, tergantung jumlah tabungan cash yang dimiliki. Sekiranya bisa beli minimal di 200 mili, seenggaknya biasanya bisa dapat anting anak atau bandul kecil.


4. Nabung Reksadana di Bibit

Salah satu instrument investasi yang saya pilih adalah Reksa Dana. Dan karena saya sudah pakai bertahun-tahun, jadi saya putuskan buat masukan tabungan anak ke sana. Sudah pasti terpisah dari tabungan saya. 
Di Bibit ini gak ada potongan, namun nilainya bisa naik turun. Untuk yang resikonya rendah adalah RDPU alias Reksa Dana Pasar Uang. Keuntungannya tergantung RDPU mana, karena tiapproduk berbeda-beda. Walaupun resikonya kecil, keuntungannya juga sebanding dengan resikonya yang kecil. Tapi karena niatnya cuma buat simpan dana, jadi gak masalah. Karena Bibit itu mudah untuk pencairannya.




Btw, sekarang bibit sudah bisa tarik uang secara instan lewat Bank Jago. Caranya, cari produk yang sudah ada tanda petir. Pencairannya bisa dalam hitungan menit. Sedangkan kalau tidak pakai instant bisa 3-7 hari kerja. Jadi tidak cocok buat tarik uang dadakan. 

Untuk penyetorannya, biasanya saya tarik uang tunai dari anak-anak sebulan sekali. Selanjutnya saya transfer dari rekening saya ke masing tabungan anak. 

Nah itu tadi review tabungan untuk anak-anak yang pernah saya pakai. Mau dimanapun menabung, yang penting terjamin keamanan dan kita harus menjaganya dengan baik. Serta jangan lupa untuk konsisten dalam menabung. Mau sedikitpun tidak masalah, yang penting jadi kebiasaan yang bermanfaat untuk kedepannya.

Kalau Moms sendiri, punya pengalaman yang bagus nabung dimana, ya? 



Comments