Hijab dan Saya

Saturday, July 11, 2015

Mumpung bulan Ramadhan, bulan penuh berkah pengen posting perjalananku sebelum memakai jilbab sampai bisa berjilbab walau masih jauh dari sempurna.

Semasa kecil saya adalah anak yang ceria, senang dengan kecantikan, keindahan tentunya kecantikan fisik yang sering muncul di televisi. Rambut panjang tergerai, dibentuk sana-sini, atau diberi aksesori lucu-lucu. Hmmm... anak perempuan mana yang gak suka?

Sedari kecil sampai SMP sepemahaman saya jilbab itu bukan kewajiban tapi
pilihan. Saya lihat teman-teman saya yag menutup auratnya adalah pilihan atau tuntutan dari keluarganya. Kalau saya? Jauh dari itu, benar-benar tak ada pemikiran bahwa tiap jengkal aurat adalah dosa.

Semenjak kakak perempuan saya masuk pesantren, apa yang ada dibenak saya kala itu? Orang-orang sana kok kaya 'fanatik' ya...

Begitulah pemikiran liberal saya yang jauh dari kata Islam, hanya islam KTP.

Yang namanya hidayah memang datang pada saat yang tak terduga. Meskipun sewaktu SD teman SD saya suka menyindir-nyindir tentang aurat wanita, yang kala itu ia sering bilang:

"Selembar saja rambut terlihat, maka api neraka balasannya (kurang lebih begitu)",

Tapi, karena belum bisa mendapat hidayah saat itu saya cuek saja, gak peduli dan menganggap candaan semata.

Semua berubah kala itu,...

Masuk SMA, saya dan sahabat semasa SMP lolos ke sekolah favorit. Kami janjian memakai baju seragam lengan pendek. Tapi, alangkah kecewanya saya ternyata dia memakai baju lengan panjang.

Rasa kecewa itu tak lantas membuat saya langsung terjun kedunia per-jilbab-an. Tapi masih menjalani proses.

Waktu berlalu, semester pertama hampir usai. Entah mengapa saya kok jadi kepikiran pengen berjilbab. Hingga suatu malam, saat semua terlelap saya kok jadi kepikiran tentang neraka, siksaan... dosa saya sepertinya menggunung. Saya tahu saya berdosa, namun saya masih saja menikmatinya. Dosa yang lain saja sepertinya sudah banyak, ini ditambah lagi dengan dosa ini. Sungguh, saya ingin meringankan dosa saya, itu saja. Saya tak mau menambah dosa. Titik!

Sayapun bicara mengenai keputusan saya untuk berjilbab, namun karena masalah ekonomi tak segampang oang lain. Saya mencari baju lengan panjang itu, dan untungnya ada bekas kakak perempuanku saat sekolah pesantren dulu.

Awal sekolah saya agak malu memakai jilbab, namun alhamdulillah banyak teman yang menyambut dan memberi semangat.

Kadang saya teringat nyiniran saya dulu terhadap para jilbaber, sering berfikir..."berjilbab kok kelakuannya begitu, bla-bla-bla..."

Oh, begini ya rasanya... jilbab itu bukan menunjukan diri itu suci, namun hanya melaksanakan kewajiban kita pada Allah. Kalau ada yang bilang berjilbab itu harus solehah, dan jilbab itu ciri solehah, maka salah besar, namun jilbab itu salah satu jalan untuk menjadi wanita solehah.

Kalaupun ada yang bilang fanatik,mungkin dia memang belum ngerti kewajiban berjilbab.
Kalau ada yang bilang kelakuan saya gak pantes sama jilbab, maka saya katakan: Saya hanyalah manusia yang punya banyak kekhilafan, dan jangan hubungkan dengan pemakaian jilbab, karena tidak nyambung!

Intinya, essence dari menutup aurat itu adalah bentuk patuh kita pada Allah, menjalankan kewajiban kita sebagai manusia. Bukan lambang orang solehah, suci, bebas dari hawa nafsu dan harus mempunyai akhlak sempurna baru boleh berjilbab.

Semoga saya bisa istiqomah dalam menutup aurat, anak-anak perempuan saya juga senantiasa menutup aurat, dan bagi kaum muslimah yang membaca ini bisa tergerak untuk segera menutup aurat. Aamiin..


Hijab dan Saya
Hijab dan Saya



You Might Also Like

6 komentar

  1. Aku jg termasuk yg telat n jilbaban n dulu bandel n keras kepala banget biar dibawain buku ttg jilbab n balasannya yg serem2 teteup jg kekeuh pacar nyuruh sampe diputusin ngga pake jg, setelah bersuami dia ngga maksa tp dia ingin aku berhijab tp sesiapnya aku aja bukan karena dia tp karena Allah ntah kenapa aku mendapat pencerahan trus pake aja Alhamdulilah

    ReplyDelete
    Replies
    1. hidayah memang datang dengancara tak terduga, mbak... Walau diceramahin tiap hari kalau belum waktunya hati untu kebuka ya percuma, hehe...

      Delete
  2. alhamdulillaah. salah satu milestone ya mak. semoga kita istiqomah dan keturunan kita juga demikian.

    ReplyDelete
  3. alhmadulilah semoga istiqomah ya mbak ;)

    ReplyDelete

Silahkan berkomentar dengan baik, sopan dan boleh sedikit bercanda tanpa keterlaluan, ya. No Spam No Iklan.

There was an error in this gadget

Popular Posts

Flickr Images