Monas, Jalan-jalan Murah ala Ibukota

Tuesday, March 01, 2016

Menginjakan kaki di ibukota rasanya gak lengkap kalau gak ke Monas apalagi buat saya yang menetap sementara (baca: ngontrak sebagai perantau) di Jakarta ini. Sepertinya jalan-jalan ke sana bakal sangat menyenangkan buat orang ndeso kaya saya, hihi.

Monas merupakan kependekan dari Monumen Nasional, setahu saya merupakan sebuah monumen bersejarah yang berupa tugu tinggi dengan emas di atasnya. Dan Monas ini merupakan ikon dari kota Jakarta sebagai ibukota dari Indonesia. Okelah sudah penjelasan singkat tentang Monasnya, kita lanjut ke pengalaman jalan-jalan saya bersama keluarga kecil saya saat ke Monas!

Kami berangkat dari rumah ke halte transjakarta Ragunan dengan menggunakan sepeda motor. Kebetulan kami bertempat tinggal di daerah Jagakarsa, dan halte TransJakarta terdekat yakni Ragunan. Halte Ragunan ini, merupakan halte paling awal. Di sini terdapat tempat parkir untuk motor, jadi bisa nyimpen motor deh.

 
Halte bus TransJakarta Ragunan

Tempat parkir di Ragunan halte bus


Jangan lupa, sebelum masuk kartu TransJakarta harus ada isinya, ya... Karena disini sistemnya memakai
kartu untuk sekali naik bus. Dan sekedar info bagi yang belum tahu, kita bisa juga lho gonta-ganti bus dengan satu tarif, asal gak keluar dari halte TransJakarta.

Kami menaiki bus dengan tujuan Monas. Hanya menunggu beberapa menit, buspun datang dengan tujuan Monas. Didalam bus begitu lengang, hanya ada sekitar 2 orang lain selain kami. Mungkin karena kami naik saat weekend maka penumpang tak begitu padat. Kami naik bus yang biru dan cukup kecil, bukan yang gandeng dan berwarna merah. Enak juga lho naik bus ini dibanding metromini, atau yang saya tahu Kobutri (asal Bandung).

Kamipun tiba di halte Monas. Perjalanan sekitar sejam dari halte Ragunan. Sasampai di halte, kami harus berjalan lagi untuk sampai ke pintu masuk area Monas. Kata suami sih deket, tapi bagi saya cukup melelahkan dan berasa jauh saja. Lumayan bikin napas ngos-ngosan saat gendong anak bungsu saya, dan untungnya gak bikin mata saya kuning-kuning pandangannya, mungkin karena sibungsu keburu diangkut suami.

..
Jalan kaki antara halte busway dan pintu masuk Monas


Oh iya, sebelum berangkat jangan lupa bekel minum atau makanan, ya. Karena di Monas sama sekali tak ada yang jual makanan. Kalaupun ada dikit banget dan susah. Pernah suami saya dulu makan di sekitar Monas (entah dimana tempatnya saya gak tahu) beli bakso, harganya jadi mahal untuk ukuran bakso biasa. Memang sih harganya gak terlalu keterlaluan seperti yang di medsos-medsos itu, tapi buat saya bikin gendok aja. Makanya mending bekel aja dari rumah. Kalau saya biar irit. Kalau mau makan dijalan ya monggo tapi jangan lupa tanya dulu harganya ya, biar ada ancer-ancer gitu... (halah gimana bahasanya, maksudnya persiapan dan gak gendok udahnya).

Kelihatannya mendung padahal itu efek cahaya, cuaca sebenarnya panas dan cerah


Suasana dari pintu masuk ke arah tugu Monas cukup panas juga. Tapi anginnya besar... jadi gak terlalu berasa kepanasan dan kegerahan. Dari pintu masuk ke tugu Monas cukup jauh juga, jadi kalau ditotal jalan kaki lumayan capek juga lhooo... Lumayan ramai juga karena banyak orang  yang mengisi weekend kesini. Tak lupa banyak para ABG dan muda-mudi yang berfoto ria di lokasi ini, entah untuk selfie atau wefie.

Di sekitar tugu monas ada kereta-keretaan. Semacm kereta wisata untuk mengelilingi area tugu Monas. Tapi kami urung untuk menaikinya karena antrian yang panjang sedangkan waktu sudah siang.

Sampai di tugu Monas, ternyata pintu masuknya ada dibawah tanah. Dibawah tanah ini kami membeli tiket
masuk tugu monas. Ada tiket untuk masuk ke museum dan cawan, ada yang sampai puncak. Untuk masukrif  museum dan cawan dikenakan tarif 5000 untuk dewasa dan 2000 untuk anak-anak. Eh iya ada tarif untuk pelajar tapi saya lupa, hehehe... Kalau mau ke puncaknya, harus bayar lagi. Kebetulan lokasi puncak sedang ditutup, mungkin ada perbaikan.

tiket masuk tugu Monas


Didalam museum isinya biorama-biorama yang menggambarkan sejarah bangsa Indonesia. Kalau dibandingkan dengan tugu Pahlawan yang ada di Surabaya sih, disini museumnya tak begitu lengkap, karena hanya biorama saja.

Suasana dalam museum, banyak pengunjung yang lesehan bahkan seperti piknik


Sekedar pengalaman, saat memasuki museum, saya memutuskan untuk sholat. Dan memang mushola ada disana beserta toiletnya. Tapi, antrinya ituuuu... uuuh... Untung saya tidak berniat untuk ke toilet atau kebelet pipis. Toiletnya cuman ada satu! Sayapun antri di tempat wudhu saja. Ada 2 keran disana seinsgat saya. Ada wastafel, yang airnya gak keluar. Entah, saya gak cek sendiri. Tetapi saat saya antri, ada ibu-ibu yang membawa anak untuk ke wastafel tapi pulang lagi , mungkin karena ingin cuci tangan aja tapi airnya gak keluar. Kebayang deh kalau cuman buat cuci tangan mesti antri toilet.

Sholat selesai, kamipun naik kecawan. Disana sudah banyak orang yang menikmati pemandangan kota Jakarta dari atas cawan. Dan, anginnya itu... guede banget lho! Jangan lupa yang bawa anak bayi untuk memakaikan kupluk dan jaket ya...

Sudah cukup puas dan lelah kamipun memutuskan untuk pulang. Dan, dramapun dimulai!

Yumna pengen pipis! Kami sudah berada diluar tugu. Sedangkan toilet tadi di museum tugu Monas. Sebenarnya sih, Yumna sudah dipakein pospak, karena takut gak nemu toilet atau kesusahan saat kebelet pipis meskipun dia udah gak pake pospak sejak lama. Tapi, kasihan juga, dia gak bisa pipis. Mungkin karena gak biasa. Kamipun cari toilet, dan ternyata gak ada toilet lagi diluar tugu Monas kecuali didepan pintu masuk! Jaraknya kan lumayann jauh juga, lho!

Satu-satunya toilet yang kami temukan diarea luar tugu


Yumna digendong sama ayahnya biar cepet saya jalan dibelakang 'alon-alonasal kelakon', karena gendong Hasya. Berat mennn... hampir kepala kunang-kunang...!

Akhirnya, sampai dengan cepat. Yumna langsung diurus sama ayahnya. Senengnya dia bisa lega...

Nah, dari pengalaman saya, yang saya sayangkan kok toiletnya belum cukup memenuhi kebutuhan pengunjung. Masih untung alhamdulillah drama horor kebelet pipis masih teratasi, gimana kalau saya gak kepikiran buat pakein pospak? Terus Yumna pengen pipis, eh malah ngompol gak ketulungan? Hadeuuuh...

Sebenernya saya pengen kesana lagi mengingat puncak Monas belum terjelajahi dan naik kereta juga belum. Namun masih takut dengan drama horor kebelet pipis, deh. Semoga saja nanti fasilitasnya makin lengkap, dan makin memudahkan kami untuk ke toilet. Aamiin!


You Might Also Like

2 komentar

  1. beuh, saya juga ga kuat ngantrinya kalo ke Monas ><

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener-bener males saya juga mbak... kalau antri loket mah gak terlalu lama...

      Delete

Silahkan berkomentar dengan baik, sopan dan boleh sedikit bercanda tanpa keterlaluan, ya. No Spam No Iklan.

There was an error in this gadget

Popular Posts

Flickr Images