Itu Memang yang Terbaik yang telah Dipilihkan Dia

Sunday, January 18, 2015

Hidup dalam keadaan yang tak kita inginkan memang sangat membuat kita sesak, kadang iri melanda. Saya adalah seseorang yang hidup ditengah keluarga yang sederhana kalau tak mau dibilang pas-pasan, makan seadanya, sudah bisa sekolah saja bisa untung, habis sekolah usai langsung kerja dan tak berpikiran untuk kuliah. Boro-boro untuk kuliah.

Berhenti menjadi pribadi yang berseragam sekolah, berganti menjadi seragam pabrik. Ya, buruh pabrik. Admin? Bukan Operator.

"itu... yang bagian kulinya..."


Mungkin sebagian orang tahunya seperti itu.

Kesempatan kerja yang ditawarkan oleh saudara dari ayah tak membuat saya berpikir panjang. Yang penting punya penghasilan dulu. Saya juga ingin kuliah. Mungkin bisa! Sepertinya ada harapan.

Ceritapun kembali bergulir, saya yang 'betah menjadi karyawan kontrak dengan gaji yang menurut saya lumayan buat sebulan membantu menyambung hidup, harus bisa mengubur keinginan untuk kuliah. Keengganan untuk menambah biaya, waktu yang tak ada karena faktor kerja yang banyak lembur, dan lembur itu bagi kami adalah wajib kalau tidak mau cepat angkat kaki, serta alasan jauhnya untuk menjangkau kampus menjadi alasan tersendiri bagi saya untuk tidak melanjutkan ke bangku kuliah dan memperbaiki taraf hidup.

Kadang saya  merasa hidup ini tak adil bagi saya, disaat orang lain bisa menikmati hidup, masih berkutat dengan kesibukan di bidang pendidikannya, saya berjuang dalam pendidikan hidup yang nyata, banting tulang, dan merasa lebih dewasa dari teman yang masih menjalani pendidikan formal.
Kalaupun ada yang sudah kerja, mereka jauh lebih beruntung bisa ditempatkan di bagian yang enak menurut saya, dan saya selalu merasa tidak lebih beruntung dari teman-teman saya.

Cukup? Tidak.

Ditempat kerjapun saya bertemu dengan seorang pria dewasa yang terlihat soleh, wajahnya teduh, ia mendekati saya dan membuat saya jatuh cinta saat itu. Disini, saya benar-benar ingin mencari jodoh bukan pacar.

Disaat tiap malam saya berdo'a agar bisa lancar dan menjadi keluarga sakinah, disaat semua sudah terasa sempurna dan dialah yang saya tunjuk menjadi imamku   saya kelak, ternyata sebuah kenyataan pahit datang.

Dia, tak serius ingin menikah, maka saya putuskan untuk tidak dekat dengannya. Belum lama dari itu cerita-cerita bagus dari kawan kerja saya tentang dia, berganti menjadi kabar miring tentang dia, yang katanya sedang dekat dengan wanita lain. Saya sih cuek saja, sampai selang waktu saya bertemu wanita yang ternyata didekatinya dalam waktu bersamaan dengan saya.

Saya serasa ditampar!

Disana saya sadar, saya telah memilih orang yang salah. Saya berterima kasih, sayapun berpikir jauh ke belakang, disaat saya terpuruk saya lebih giat dalam beribadah. Kalau dulu saya hanya menjalankan yang wajib, itupun kadang terburu-buru, kini saya bisa selalu mengingat Allah, dimanapun kapanpun bukan hanya ketika kumandang adzan berbunyi dan waktu sholat. Sayapun lebih banyak berdo'a dan meminta kepada-Nya.

Dan kesendirian saya ternyata berbuah manis, tak lama entah mengapa, saya bisa dipertemukan dengan lelaki yang sekarang menjadi imam saya. Dan ternyata ia 1000% lebih baik dari pria itu. Semua yang saya pinta dalam tiap do'a ada padanya. Kami satu pemikiran meski berbeda karakter. Kami saling mengisi dengan perbedaan karakter kami, saya yang pendiam sedangkan dia supel, saya yang agak lambat dalam mengurus pekerjaan rumah tangga, dia sering membantuku, sampai tahun ke-4 pernikahan kami, ia seperti itu.

Allah memang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan. Dan perlu digaris bawahi, Dia paling tahu apa yang dibutuhkan makhluk-Nya dibanding mkhluk-Nya sendiri.

Saya jadi teringat akan potongan ceramah, bahwa Allah itu Maha Mengabulkan apa yang kita minta pasti dikabul, kalaupun tidak (karena yang kita minta tidak baik untuk kita), Ia akan ganti dengan yang jauh lebih baik dari yang kita minta.

Kuncinya adalah kesabaran, Qona'ah (terima apa adanya), dan syukuri apa yang sudah didapat karena yang didapat oleh kita adalah yang terbaik untuk kita (mungkin jika saya hidup bergelimang harta , saya akan menjadi pribadi yang sesat, dan dibutakan oleh dunia... na'udzubillah).

#tulisan ini dibuat untuk mengikuti GA mak Cucuthnya Echa

You Might Also Like

12 komentar

  1. Sukses GAnya mak santi....:)
    Semoga tetap qana'ah agar damaai selalu bersamamu

    ReplyDelete
  2. Perjuangan y mak, n selamat mak sdh berhasil melalui itu. Keren. Salut. Slm kenal y mak, n sukses ngontesnya yak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal juga, makasih kunjungannya mak...:)

      Delete
  3. Mantab ya Mak.. Rencana Allah memang yang terbaik :)

    ReplyDelete
  4. Replies
    1. iya mak... alhamdulillah... rencana Allah memang pasti yang terbaik bagi makhluk-Nya...

      Delete
  5. qonaah. kata itu baru saya dengar waktu kuliah saat seorang teman menasihati saya. rasanya qonaah memang enak diucapkan tapi sulit dilaksanakan.

    ReplyDelete
  6. Kok sama ya mak pemikirannya denganku. Aku juga mikirnya klo hidupku diberi jatah bergelimang harta, mungkin aq bisa lupa padaNya. Dengan berpikir seperti itu hati kita jadi lebih adem loh. Toh semua harta dan apapun yg kita miliki tak akan menjadi milik kita selamanya. Hanya diri kita lah yg akan menjadi milik Allah selamanya. Hanya kita dan amalan kitalah yg diperlukan olehNya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak..., dunia memang cuma ujian.
      Thanks kunjunganya...:)

      Delete

Silahkan berkomentar dengan baik, sopan dan boleh sedikit bercanda tanpa keterlaluan, ya. No Spam No Iklan.

There was an error in this gadget

Popular Posts

Flickr Images